Jejak Sejarah Lima Opu Daeng bersaudara di Kesultanan Melayu yang berasal dari Kerajaan LUWU

[Photo: Raja Muhammad Khalid Bin Raja Adnan, salah seorang daripada keturunan Opu Daeng Chelak bergambar bersama Sri Paduka Datu Luwu XL, La Maradang Mackulau Opu To Bau di Istana Kedatuan Luwu di Palopo, Luwu – Sulawesi Selatan pada 8 September 2019 sewaktu acara Festival Keraton Nusantara ke 13].

Jejak Bangsawan BUGIS di Kesultanan Melayu di Semenanjung Tanah Melayu dan warisan Budaya Bahari di dalam sejarah kebudayaan Melayu, Kerajaan Lingga Riau berperan penting dalam perkembangan bahasa MELAYU hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa INDONESIA. Di sebalik sejarah dan tokoh besar yang sering disebut adalah RAJA ALI HAJI, seorang budayawan dan pahlawan nasional keturunan Bugis yang melahirkan karya-karya besar seperti Gurindam Dua Belas.

Selain itu terdapat juga naskah yang berjudul “Sejarah Raja-Raja Melayu dan Bugis” koleksi Pusat Dokumentasi Melay Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur dengan nomor inventaris MS 87 yang merupakan salinan naskah Tuhfat al-Nafis, sebagai naskah yang paling sering dirujuk sebagai sumber sejarah DIASPORA Bugis Makassar terkait kiprah LIMA OPU DAENG bersaudara di Semenanjung Tanah Melayu yang berasal dari Kerajaan LUWU, tetapi pada sumber lain menyajikan kombinasi BONE-LUWU.

Di dalam naskah Tuhfat al-Nafis Salasilah Melayu dan Bugis, terdapat seorang tokoh yang bernama Lamadusalat [baca: La Maddusila], Raja Luwu yang pertama memeluk Islam dan memiliki TIGA orang putra, yaitu OPU TENRI BORONG DAENG RI LEKKE yang membawa merantau KELIMA putranya yang bernama Upu Daing Perani, Upu Daeng Menambon, Upu Daeng Marewah, Upu Daeng Chelak dan Upu Daeng Kumasi [baca, Opu Daeng Kamase].

Kelima bersaudara itulah yang terkenal hingga sekarang sebagai OPU LIMA BERSAUDARA. Menurut Prof. Zainal Abidin Farid [1999] dalam bukunya Capita Selecta: Sejarah Sulawesi Selatan, salasilah yang terdapat di dalam Tuhfat al-Nafis dan Salasilah Melayu dan Bugis sama sekali TIDAK SESUAI dengan isi Lontarag NB No. 208 yang terdapat di Leidse Rijksuniversiteits Bibliotheek di Nederland, dan semua Lontaraq di daerah Bugis.

Dalam daftar RAJA LUWU nama La Maddusila tidak ditemukan, tapi terdapat nama yang sama, yaitu anak Raja Luwu We Tenri Leleang bersuami La Mallarangeng yang diperkirakan hidup sekitar tahun 1778 sampai awal abad ke-19. Dalam buku yang sama edisi terakhir 2017, Prof. Zainal menduga sebagai kesimpulan bahwa apabila Opu Tenriborong Daeng Rilekke’ memang bersaudara We Ummung Datu Larompong [Luwu], permaisuri Raja Bone XVI [La Patau Matanna Tikka Sultan Alimuddin Idris, 1696-1714], maka Opu Tenri Borong adalah anak La Settiaraja Sultan Ahmad Muhyiddin, Datu Luwu XVIII dan XX matinroe ri Tompotika, tetapi hal ini masih memerlukan penelitian salasilah lebih lanjut.

Malah menurut Prof. Zainal, uraian Tuhfat al-Nafis dan Salasilah Melayu dan Bugis atas kunjungan Opu Tenriborong Daeng Rilekke’ di Bone untuk menemui saudara atau sanak keluarganya [Salasilah Melayu dan Bugis] dapat membuka tabir tentang asal usul para Lima Opu, karena Raja Bone XVI, La Patau Matanna Tikka [1696-1714] sezaman dengan Opu ‘Tenriborong Daeng Rilekke’ pada akhir abad ke-17 sampai awal abad ke-18.

Sahdan, Opu Tenriborong dan kelima putranya ke Bone untuk minta doa-restu Raja Bone, karena mereka akan “berangkat” mengembara mengadu tuah ke sebelah Barat, mudah-mudahan dengan pertolongan Rabbulalamin supaya dapat menjadi masyhur nama raja-raja Bugis di tempat itu, lalu kemudian Raja Bone [La Patau] membekalinya keris pusaka yang bernama Tanjung Lada, [Salasilah Melayu dan Bugis, op.cit:18].

Jejak Raja Bone juga ditemukan dalam Disertasi Andaya [1971] dan Koh [2007] yang menceritakan bantuan pasukan oleh Raja Bone XIX La Pareppa Tosappewali [1718-1721] dan Ratu Bone XXI We Bataritoja [1724-1749] kepada Daeng Marewa dalam berbagai perang.

Misteri LIMA OPU DAENG, berasal kombinasi Luwu-Bone mulai tersingkap, selama sebelumnya sering simpang-siur…

Meski jejak Raja Bone tampak jelas dalam berbagai data, namun tetap tersisa MISTERI berikutnya, yaitu SIAPA Raja Bone, berikut anak-anaknya yang dicatat TANPA NAMA dalam stambuk Belanda?

Jika mengikuti petunjuk waktu Prof. Zainal Abidin Farid, kemungkinan Raja Bone yang dimaksud berada di pusaran periode dari zaman We Tenri Tuppu Raja Bone X [1602-1611] sampai La Patau Matanna Tikka Raja Bone XXVI [1696-1714] dengan melihat masa wafat dari ketiga raja pertama dari Yang Dipertuan Muda yang wafat pada tahun 1722, 1723 dan 1743. Nama-nama yang pasti dan tokoh-tokoh Bugis lainnya kemungkinan akan terungkap dalam buku yang dalam proses penerbitan oleh Ambo Upe, dkk. [Lihat Blog pribadi Muhammad Sapri Andi Pamulu, Ph.D.]

Dalam Naskah Belanda lainnya tentang sejarah Lingga Riau terdapat salasilah [stamboom], ditulis pada bulan januari 1855 oleh T.J. Willer, Residen Belanda, dimuat dalam buku Bleeker et.al [1855] dalam Tidschrift voor Indische Tall Land en Volkenkunde pada halaman 411 dengan sub-judul “Stamboom der onderkoningen van Riouw”.

Susunan salasilah dimulai dari paling atas adalah Raja Bone [Koning van Boni] lalu tingkatan berikutnya turun ke anak-anaknya, yaitu Raja Bone [Koning van Bone] dan Upu Prins van Bone [Pangeran Bone], kemudian turun ke level berikutnya adalah Daeng Marewa sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I [paling kiri], lalu Daeng Parani [di tengah] dan Daeng Pali sebagai Yang Dipertuan Muda II [paling kanan].

Generasi berikutnya adalah anak dari Daeng Parani yaitu Daeng Kamboja sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III, kemudian anak dari Daeng Pali yaitu Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV, lalu kembali ke anak Daeng Kamboja yakni RAJA ALI sebagai Yang Dipertuan Muda Riau V. Setelah itu, keturunan Daeng Pali yang meneruskan trah Bugis Bone di Kerajaan Lingga Riau.

Dalam buku Belanda lainnya tahun 1870 disebut nama Daeng Cella’ [Chelak] sebagai nama lain dari Daeng Pali. Susunan yang sama tentang salasilah dapat ditemukan dalam Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu [2019] dalam tulisan Syahrul Rahmat dengan judul Bugis di Kerajaan Melayu dan Sejarah Kabupaten Lingga yang ditulis oleh Bupati Lingga 2016-2021, Ilyas Wello, dalam buku Tamadun Melayu Lingga yang merupakan kumpulan makalah “Seminar Memuliakan Tamadun Melayu” yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga (2018).

Susunannya adalah sebagai berikut:

1. Daeng Marewah/Yang Dipertuan Muda Riau I [1722-1728] 2. Daeng Chelak/Yang Dipertuan Muda Riau II [1728-1745] 3. Daeng Kamboja/Yang DipertuanMuda Riau III [1748-1777] 4. Raja Haji/Yang Dipertuan Muda Riau IV [1777-1784] 5. Raja Ali/Yang Dipertuan Muda Riau V [1784-1806] 6. Raja Jaafar/Yang Dipertuan Muda Riau VI [1806-1831] 7. Raja Abdul Rahman/Yang dipertuan Raja Muda Riau VII [1833-1843] 8. Raja Ali/Yang Dipertuan Muda Riau VIII [1845-1857] 9. Raja Abdullah/Yang Dipertuan Muda Riau IX [1857-1858] 10. Raja M. Yusuf/Yang Dipertuan Muda Riau X [1858-1899] Raja M. Yusuf/Yang Dipertuan Muda Riau X adalah anak Raja Ali dan cucu dari Raja Jaafar. Raja M Yusuf kemudian memperistri Tengku Embung Fatimah. Dari pernikahannya lahir Raja Abdurrahaman kemudian menjabat sebagai Sultan Kerajaan Riau Lingga dengan gelar Sultan Abdurrahman Muazamsyah II merupakan Sultan terakhir sebelum dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1913.

Kerajaan Lingga merupakan kerajaan Melayu, berpusat di Kota Daik sebagai Negara Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga, berdiri sejak 1150 yang pada awalnya merupakan bagian dari Kesultanan Melaka, mulai dari Kerajaan Bintan [1150-1158], Kerajaan Bintan-Temasik 1159-1384 [berpusat di Singapura], Kerajaan Melaka [1384-1511], berlanjut lagi ke Bintan, kemudian ke Kampar dan di Johor [1511—1678], hingga Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Sultan Melaka terakhir yang membangun Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang sejak 1761 hingga 1812, bermula di Hulu Riau, Sungai Carang, Pulau Bintan [1761—1787] dan selama 25 tahun berlanjut di Lingga dan Pulau Penyengat [1787-1812].

Kerajaan Lingga kemudian terbagi dua bagian berdasarkan Traktat London [1824] pada masa Sultan Abdurrahman [1812-1832], yaitu Bagian utara menjadi Kesultanan Melayu Johor-Singapura, Bagian Selatan menjadi wilayah Kesultanan Melayu Lingga-Riau.

Pada masa Sultan Abdurrahman Muazam Syah [1883-1913], Kesultanan Lingga telah dihapus oleh pemerintah Hindia Belanda dengan MEMAKZULKAN Sultan secara in absentia 3 Februari 1911. [Lihat Blog pribadi Muhammad Sapri Andi Pamulu, Ph.D.]. Di tulis oleh Andi Firdaus Daeng Sirua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *