Gran Tanah Pulau Batam Bertarikh 29 Rabiul Awal 1118 Hijrah bersamaan 11 December 1890 masihi

Surat Kurnia dan Pemilikan Pulau Batam telah dikeluarkan oleh Seri Paduka Yang DiPertuan Muda Riau dan Lingga, Raja Muhammad Yusuf Ibni Raja Ali pada 29 Rabiul Awal 1308 hijrah bersamaan 11 December 1890 Masihi dan di kurniakan kepada putera putera baginda, Raja Abdullah (Tengku Besar) dan Raja Ali Kelana dan juga kepada saudara pupuan baginda, Raja Muhammad Tahir Bin Raja Haji Abdullah, seperti berikut:-

“Bahawa kita Seri Paduka Yang DiPertuan Muda Riau Dan Lingga serta daerah takluknya, sekelian menyatakan perihal tanah tanah yang di Pulau Batam yang telah jadi kurniaku kepada putera kita Raja Abdullah (Tengku Besar) dan kepada putera kita Raja Ali Kelana dan saudara kita Raja Muhammad Tahir Bin Al Marhum Yang DiPertuan Muda Riau Raja Haji Abdullah Al-Khalid. Dengan surat kita yang termaktub pada 29 haribulan Rabiul Akhir pada hari Rabu 1308 Hijrah, dan pada tanah itu telah semua di ________ Raja Ali dan Raja Muhammad Tahir yang tersebut itu dengan belanjanya dan ketetapan keduanya. Maka pada tarikh daripada ini, kita telah _____ haruslah ia melakukan sebagaimana yang telah kita izinkan itu. Kita kehendaki jika ada orang yang bukan bangsa anak negeri yang hendak ______ berusaha atau menyewa didalam kawasan tanah itu, hendaklah mereka itu dibawa kepada Pemerintah dan berjanji kepada kita sendiri. Adapun daripada segala faedahnya yang masih daripada perjanjian itu dan tiadalah Kerajaan mengambil akan dia hanya tetap jua kurnia dimiliki oleh tiga orang yang tersebut itu atau ahli waris nya adanya.”

Peta Gran Tanah Pulau Batam Bertarikh 29 Rabiul Awal 1118 Hijrah bersamaan 11 December 1890 masihi

***************

Petikan daripada Tulisan : Aswandi Syahri
Sumber: Website Pemerintah Kota Batam

“Mengimbangi perkembangan Singapura yang pesat sejak dibuka Inggris pada tahun 1819, pihak kerajaan Riau-Lingga juga mulai membukan pulau Batam dan pulau-pulau sekitarnya untuk berbagai kontrak dan konsesi. Perkembangan ini berhasil memancing sejumlah “penanaman modal asing” dan pengusaha-pengusaha kaya dari Singapura untuk membuka dan melebarkan usahanya ke Pulau Batam dan pulau-pulau sekitarnya.

Disamping membuat kontrak dan membuka konsesi untuk pengusaha dan pemodal asing, Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf juga memberikan kurnia bagian tanah tanah Batam kepada “pengusaha” tempatan yang berasal dari kaum kerabatnya. Sebuah contoh yang amat terkenal adalah kurnia tanah tanah di pulau Batam yang diberikan oleh Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf kepada Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Muhamad Tahir, dan putranya yang bernama Raja Ali Kelana berdasarkan surat kurnia dari Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf tanggal 29 Rabul Akhir 1308 Hijriah yang bersamaan dengan tanggan tanggal 11 atau 12 Desember 1890 Miladiah.

Dalam sebuah surat tanggal 8 Rabiul Awal 1316 Hijriah, bersamaan dengan 26 Juli 1898 Miladiah, “ditegaskan” kembali oleh Raja Muhammad Yusuf bahwasanya diatas tanah tersebut Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir telah membuka usaha dengan menggunakan modal dan usahanya sendiri.Usaha apa yang dibuat oleh Raja Ali kelana dan Raja Muhammad Tahir di atas tanah kurnia tersebut? Apakah pada tanah yang dijelaskan pada dua surat tersebut sebuah pabrik batu bata yang kemudian menjadi milik Raja Ali Kelana didirikan? Belum ada bahan sumber yang dapat menjelaskan hal ini. Satu hal yang pasti, Song Ong Siang dalam sebuah bukunya menyebut seorang pengusaha Cina dari Singapura bernama Sam Ong Leong sebagai pemilik sebuah pabrik batu bata di pulau Batam. Apakah pabrik ini didirikan diatas atas tanah yang disewa Sam Ong Leong dari Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir? Satu hal yang pasti, terdapat sebuah pabrik batu bata dengan nama Batam Brick Works di Batu Haji pulau Batam, terkenal dengan merek BATAM dan mempunyai kantor pusat di Singapur

Bahan sumber informasi terbaru tentang pabrik yang berlokasi di Batu Haji ini menyebutkan bahwa, “…pabrik batu bata Batam Brick Works telah lama berdiri, namun pendirinya tak mampu membuat sebarang keberhasilan. Setelah mengalami beberapa kali perubahan, akhirnya kepemilikan atas pabrik itu dibeli ole Raja Ali Kelana pada tahun 1896 [ “…The Batam Brick Works have been established for many years, but the founder was unable to make the business a sucess, and, after passing through many vicissitudes, the undertaking was purchased by Raja Alie the present owner, in 1896…”]
Dari siapa Raja Ali Kelana beli pabrik ini? Sulit untuk menjawab hal ini karena ketiadaan sumber yang dapat menerangkannya. Namun yang jelas, di tangan Raja Ali Kelana, pabrik penghasil batu bata dengan merek “BATAM” yang hampir bangkrut ini, berhasil bangkit sehingga mampu menghasilkan 30.000 batu bata dalam sehari dan bahkan mampu mengangkat nama Batam sebagai penghasil batu bata yang bermutu di kawasan Selat Melaka.

Perkembangan pabrik batu bata Batam Brick Works semakin pesat setelah nama perusahaan yang berkantor pusat di Singapura ini muncul dalam Singapore Straits and Directory pada tahun 1901. Sejak saat itu nama Batam Brick Works semakin terkenal sebagai perusahaan penghasil batu bata bermutu yang terbesar di gugusan Kepulauan Riau-Lingga dan negeri-negeri Selat.


Mutu batu bata produksi Batam Brick Works selalu memenangkan sejumlah pertandingan kualitas dan mutu batu bata di Singapura, Semanjung Melayu, dan kawasan Timur Jauh. Bahkan karena mutu batu batanya, perusahaan ini pernah mendapatkan award (penghargaan) dalam sebuah pameran di Hanoi dan Pulau Pinang pada tahun 1907.

Aktivitas Batam Brick Works dibawah Raja Ali Kelana berakhir ketika ia memutuskan untuk menjual persahaan itu kepada seorang pengusaha Cina di Singapura pemilik Sam Bee Brick Works, satu tahun menjelang pemakzulan Sultan Abdulraman dan Tengku besar kerajaan Riau-Lingga pada tanggal 10 Februari 1911.

Raja Ali Kelana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *